"Dalam setiap hal kita belajar, dalam tiap peristiwa ada makna..". Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

assalamualaikum..... selamat datang di "fyan's note". semoga apa yang saya tulis bisa bermanfaat untuk semua..... ^^

Teori ruang dari Kurt Lewin

 Teori ruang dari Kurt Lewin
Kurt Lewin adalah penganut Gestalt, tetapi tidak seperti penganut Gestalt lainnya, ia memfokuskan pekerjaannya di bidang psikologi social dan kepribadian. Lewin menciptakan teori ruang (field teory) pada tahun 1935. Konsepnya mengenai “ruang” dapat dilihat sebagai ruang dalam konteks vector-vektor matematis atau sebagai ruang kehidupan. Teori ini berfokus pada ruang hidup (semua dorongan internal dan eksternal yang berperan pada individu) dan hubungan structural antara manusia dan lingkungan.
Definisi Lewin pada kepribadian berfokus pada kondisi sesaat individu (pemikiran menenai penyebab kontemporer). Karena teori Lewin berfokus pada apa yang terjadi dalam pikiran seseorang pada setiap saat, teorinya bisa dianggap didasarkan pada aliran kognitif, walaupun pada saat bersamaan memberikan perhatian pada situasi juga meletakkannya pada teori interaksionisme.

Dependensi ruang sebagai variabel kepribadian
Setiap individu memiliki gaya kognitif yang unik dan menetap dalam menghadapi tugas kognitif sehari-hari seperti persepsi, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan (Bertini, Pizzamiglio, dan Wapner, 1986). Orang saling berbeda satu sama lain pada banyak dimensi, seperti apakah mereka lebih berfokus pada warna atau bentuk ketika melihat gambar ( yaitu ketika melihat objek bervariasi baik dalam hal warna maupun bentuk, dimensi mana yang dianggap lebih penting), umumnya atentif atau tidak atentif, analitik, (berfokus pada bagian-bagian dari suatu objek secara terpisah) atau sintesis (berfokus pada pola); evaluative atau non evaluative; orang melihat dunia sebagai sesuatu yang kompleks dan rumit atau melihat dunia sebagai asesuatu yang lebih sederhana, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan tersebut menjelaskan mengapa ada orang yang dating ke suatu pesta kebun dengan mengenakan kaus Hawwai dengan celana polyester kotak-kotak dan sepatu putih mahal, sedangkan orang lain dating dengan pakaian katun hitam dengan sedikit warna putih.
Salah satu variable gaya kognitif  yang telah dipahami oleh para akademisi dengan baik adalah dependensi ruang (field dependence). Orang yang telah memiliki skor tinggi dalam dependensi ruang, pengambilan keputusannya sangat dipengaruhi oleh konteks atau ruang dari munculnya masalah., yang terlihat secara jelas namun tidak secara langsung berhubungan dengan solusi yang harus ditemukan. Orang lain yang memiliki skor rendah dependensi ruangnya tidak akan terlalu memperhatikan factor kontektualitas.
Contoh umum dari dependensi ruang dapat dilihat dari tugas yang meminta subjek untuk menyesuaikan tingkat kemiringan sebuah tongkat hingga berada pada posisi vertical. Persepsi mereka mengenai posisi tongkat dipengaruhi oleh konteks atau ruang dimana tongkat tersebut berada.
Versi lain, orang duduk di sebelah kursi khusus dengan control untuk menyesuaikan kemiringan dan diminta untuk mengubah kursi  ke posisi tegak lurus, sementara ia berada dalam suatu ruangan dengan lantai miring. Dalam kasus ini, individu yang tiudak tergantung pada ruang akan dapat mengabaikan informasi visual yang salah dalam situasi tersebut dan mendengar informasi yang diberiakan oleh posisi tubuh. Orang yang memperhatikan ruang akan sangat terpengaruh oleh informasi mengenai kemiringan lantai dan bukan mengubah posisi kursi ke dalam posisi tegak lurus yang sebenarnya.
Dependensi pertama kali dianggap sebagai variable kepribadian oleh Herman Witkins (1949) dan Solomon Asch (1952) pada tahun 1940-an. Dependensi ruang berguna dalam memberiakn gambaran tentang perbedaan individual dalam kepribadian yang dapat terukur secara releabel oleh banyak alat berbeda, selain itu variable ini cenderung konsisten sepanjang waktu. Kontinum dependensi ruang diasosiasikan dengan berbagai aspek perilaku, terutama perilaku interpersonal.
Ketika dependensi ruang dipelajari pada beberapa kelompok, ditemukan adanya sedikit perbedaan diantara gender yang konsisten, dimana wanita cenderung lebih tergantung ruang daripada pria. Hal ini konsisten dengan banyak aspek perbedaan gender dalam kepribadian dan kognisi, seperti kepekaan social wanita yang lebih besar dan pemikiran moral yang lebih konteksual.
 Saat dependensi ruang dipelajari dalam kontyeks lintas budaya, muncullah perbedaan-perbedaan yang disebabkan oleh budaya. Witki menemukan bukti bahwa masyarakat dapat dikarakterisasikan berdasarkan kognitif utama anggota masyarakat . Orang dalam masyarakat pemburu-pengumpul cenderung lebih tidak tergantung pada ruang dibandingkan orang dalam masyarakat agraris. Ia mengatribusikan perbedaan nilai adaptif dari setiap gaya atas adanya perbedaan kebutuhan individual pada tiap kelompok.
Variable gaya kognitif lain yang masih relevan terhadap kepribadian adalah kompleksitas kognisi sejauh mana orang dapat memahami, menggunakan dan nyamandengan banyaknya aspek atau elemen terpisah ketika menganalisis suatu hal dan sejauh mana orang dapat mengintregasikan elemen-elemen tersebut dengan melihat hubungan atau ikatan diantara mereka.  Orang yang kompleksitas kognisinya rendah akan melihat dunia dalam pandangan yang lebih absolute dan sederhana, memiliki masalah yang tidak ambigu dan solusi yang ;langsung dapat diterapkan. Komponen penting dalam kompleksitas kognisi adalah rasa nyaman dalam menghadapi ketidakpastian. Orang yang kompleksitas kognisinya tinggi umumnya cenderung lebih nyaman dalam menghadapi ketidakpastian sedangkan orang yang kompleksitasnya rendah lebih memilih untuk berfokus pada sesuatu yang sudah pasti. Tingkat kompleksitas kognisi akan semakin mengingkat seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar