Teori ruang dari Kurt Lewin
Kurt Lewin adalah
penganut Gestalt, tetapi tidak seperti penganut Gestalt lainnya, ia memfokuskan
pekerjaannya di bidang psikologi social dan kepribadian. Lewin menciptakan
teori ruang (field teory) pada tahun
1935. Konsepnya mengenai “ruang” dapat dilihat sebagai ruang dalam konteks
vector-vektor matematis atau sebagai ruang kehidupan. Teori ini berfokus pada
ruang hidup (semua dorongan internal dan eksternal yang berperan pada individu)
dan hubungan structural antara manusia dan lingkungan.
Definisi Lewin pada
kepribadian berfokus pada kondisi sesaat individu (pemikiran menenai penyebab
kontemporer). Karena teori Lewin berfokus pada apa yang terjadi dalam pikiran
seseorang pada setiap saat, teorinya bisa dianggap didasarkan pada aliran
kognitif, walaupun pada saat bersamaan memberikan perhatian pada situasi juga
meletakkannya pada teori interaksionisme.
Dependensi
ruang sebagai variabel kepribadian
Setiap individu memiliki
gaya kognitif yang unik dan menetap dalam menghadapi tugas kognitif sehari-hari
seperti persepsi, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan (Bertini,
Pizzamiglio, dan Wapner, 1986). Orang saling berbeda satu sama lain pada banyak
dimensi, seperti apakah mereka lebih berfokus pada warna atau bentuk ketika melihat
gambar ( yaitu ketika melihat objek bervariasi baik dalam hal warna maupun
bentuk, dimensi mana yang dianggap lebih penting), umumnya atentif atau tidak
atentif, analitik, (berfokus pada bagian-bagian dari suatu objek secara
terpisah) atau sintesis (berfokus pada pola); evaluative atau non evaluative;
orang melihat dunia sebagai sesuatu yang kompleks dan rumit atau melihat dunia
sebagai asesuatu yang lebih sederhana, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan
tersebut menjelaskan mengapa ada orang yang dating ke suatu pesta kebun dengan
mengenakan kaus Hawwai dengan celana polyester kotak-kotak dan sepatu putih
mahal, sedangkan orang lain dating dengan pakaian katun hitam dengan sedikit
warna putih.
Salah satu variable gaya
kognitif yang telah dipahami oleh para
akademisi dengan baik adalah dependensi ruang (field dependence). Orang yang
telah memiliki skor tinggi dalam dependensi ruang, pengambilan keputusannya
sangat dipengaruhi oleh konteks atau ruang dari munculnya masalah., yang
terlihat secara jelas namun tidak secara langsung berhubungan dengan solusi
yang harus ditemukan. Orang lain yang memiliki skor rendah dependensi ruangnya
tidak akan terlalu memperhatikan factor kontektualitas.
Contoh umum dari
dependensi ruang dapat dilihat dari tugas yang meminta subjek untuk
menyesuaikan tingkat kemiringan sebuah tongkat hingga berada pada posisi
vertical. Persepsi mereka mengenai posisi tongkat dipengaruhi oleh konteks atau
ruang dimana tongkat tersebut berada.
Versi lain, orang duduk
di sebelah kursi khusus dengan control untuk menyesuaikan kemiringan dan diminta untuk
mengubah kursi ke posisi tegak lurus, sementara ia berada
dalam suatu ruangan dengan lantai miring. Dalam kasus ini, individu yang tiudak
tergantung pada ruang akan dapat mengabaikan informasi visual yang salah dalam
situasi tersebut dan mendengar informasi yang diberiakan oleh posisi tubuh.
Orang yang memperhatikan ruang akan sangat terpengaruh oleh informasi mengenai
kemiringan lantai dan bukan mengubah posisi kursi ke dalam posisi tegak lurus
yang sebenarnya.
Dependensi pertama kali
dianggap sebagai variable kepribadian oleh Herman Witkins (1949) dan Solomon
Asch (1952) pada tahun 1940-an. Dependensi ruang berguna dalam memberiakn
gambaran tentang perbedaan individual dalam kepribadian yang dapat terukur
secara releabel oleh banyak alat berbeda, selain itu variable ini cenderung
konsisten sepanjang waktu. Kontinum dependensi ruang diasosiasikan dengan
berbagai aspek perilaku, terutama perilaku interpersonal.
Ketika dependensi ruang
dipelajari pada beberapa kelompok, ditemukan adanya sedikit perbedaan diantara
gender yang konsisten, dimana wanita cenderung lebih tergantung ruang daripada
pria. Hal ini konsisten dengan banyak aspek perbedaan gender dalam kepribadian
dan kognisi, seperti kepekaan social wanita yang lebih besar dan pemikiran
moral yang lebih konteksual.
Saat dependensi ruang dipelajari dalam
kontyeks lintas budaya, muncullah perbedaan-perbedaan yang disebabkan oleh
budaya. Witki menemukan bukti bahwa masyarakat dapat dikarakterisasikan
berdasarkan kognitif utama anggota masyarakat . Orang dalam masyarakat
pemburu-pengumpul cenderung lebih tidak tergantung pada ruang dibandingkan
orang dalam masyarakat agraris. Ia mengatribusikan perbedaan nilai adaptif dari
setiap gaya atas adanya perbedaan kebutuhan individual pada tiap kelompok.
Variable gaya kognitif
lain yang masih relevan terhadap kepribadian adalah kompleksitas kognisi sejauh
mana orang dapat memahami, menggunakan dan nyamandengan banyaknya aspek atau
elemen terpisah ketika menganalisis suatu hal dan sejauh mana orang dapat
mengintregasikan elemen-elemen tersebut dengan melihat hubungan atau ikatan
diantara mereka. Orang yang kompleksitas
kognisinya rendah akan melihat dunia dalam pandangan yang lebih absolute dan
sederhana, memiliki masalah yang tidak ambigu dan solusi yang ;langsung dapat
diterapkan. Komponen penting dalam kompleksitas kognisi adalah rasa nyaman
dalam menghadapi ketidakpastian. Orang yang kompleksitas kognisinya tinggi
umumnya cenderung lebih nyaman dalam menghadapi ketidakpastian sedangkan orang
yang kompleksitasnya rendah lebih memilih untuk berfokus pada sesuatu yang
sudah pasti. Tingkat kompleksitas kognisi akan semakin mengingkat seiring
dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup.






0 komentar:
Posting Komentar