A. PENGERTIAN IQ, EQ, DAN SQ
1. Intelectual
Quotient (IQ)
a.
Pengertian IQ
Orang sering kali menyamakan arti intelegensi dengan IQ, padahal kedua istilah
ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti intelegensi
(kecerdasan) sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ adalah skor yang diperoleh
dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian IQ hanya menggambarkan sedikit
indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan
seseorang secara menyeluruh.
Kecerdasan
ini terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah
kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, bernalogi,
berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Atau lebih tepatnya
diungkapkan oleh para pakar psikologis dengan “What I Think“.
Meski
sudah bertahun-tahun dunia akademik, dunia militer (sistem rekrutmen dan
promosi personel militer) dan dunia kerja, menggunakan IQ sebagai standar
mengukur kecerdasan seseorang. Selain hal di atas masalah IQ menjadi sorotan
para ahli dan mereka mencatat sedikitnya ada dua kelemahan (bukan kesalahan)
yang menuntut untuk diperbaruhi, yaitu:
1) Pemahaman absolut
terhadap skor IQ .
Steve Hallam berpandangan,
pendapat yang menyatakan kecerdasan manusia itu sudah seperti angka mati dan
tidak bisa diubah, adalah tidak tepat. Penemuan modern menunjuk pada fakta
bahwa kecerdasan manusia itu hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara
sisanya, 58% merupakan hasil dari proses belajar.
2) Cakupan
kecerdasan manusia : kecerdasan nalar, matematika dan logika
Steve Hallam sekali lagi mengatakan bahwa pandangan tersebut tidaklah tepat, sebab dewasa ini makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu bermacam-macam. Buktinya, Michael Jordan dikatakan cerdas selama berhubungan dengan bola basket. Mozart dikatakan cerdas selama berurusan dengan musik. Mike Tyson dikatakan cerdas selama berhubungan dengan ring tinju.
Steve Hallam sekali lagi mengatakan bahwa pandangan tersebut tidaklah tepat, sebab dewasa ini makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu bermacam-macam. Buktinya, Michael Jordan dikatakan cerdas selama berhubungan dengan bola basket. Mozart dikatakan cerdas selama berurusan dengan musik. Mike Tyson dikatakan cerdas selama berhubungan dengan ring tinju.
2. Emotional
Quotient (EQ)
a. Pengertian EQ
Kemampuan
untuk mengenali perasaan sendiri, perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri,
mengelola emosi dengan baik, dan berhubungan dengan orang lain (Daniel
Goldman).
Kemampuan
mengindra, memahami dan dengan efektif menerapkan kekuatan, ketajaman, emosi
sebagai sumber energi, informasi, dan pengaruh (Cooper & Sawaf).
Sehingga
dapat disimpulkan EQ adalah kemampuan untuk menyikapi pengetahuan-pengetahuan
emosional dalam bentuk menerima, memeahami dan mengelola.
Kecerdasan
ini di otak berada pada otak belakang manusia. Kecerdasan ini memang tidak
mempunya ukuran pasti seperti IQ, namun kita bisa merasakan kualitas
keberadaannya dalam diri seseorang. Oleh karena itu EQ lebih tepat diukur
dengan feeling.
Kecerdasan ini lebih tepat diungkapkan dengan “What I feel”.
3. Spiritual
Quotient (SQ
a. Pengertian SQ
Kecerdasan
spiritual sering disebut SQ (Spiritual Quotient) penemunya Danah Zohar dan Lan
Marshall, London , 2000) cenderung diperlukan bagi setiap hamba Tuhan untuk
dapat berhubungan dengan Tuhannya. Melibatkan kemampuan, menghidupkan kebenaran
yang paling dalam; artinya mewujudkan hal yang terbaik, untuk dan paling
manusiawi dalam batin. Gagasan, energi, nilai, visi, dorongan, dan arah
panggilan hidup, mengalir dari dalam dari suatu keadaan kesadaran yang hidup
bersama cinta.
‘‘SQ adalah kecerdasan untuk
menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan
kaya”. (h.4)
Kecerdasan
spiritual adalah sumber yang mengilhami, menyemangati dan mengikat diri
seseorang kepada nilai-nilai kebenaran tanpa batas waktu (Agus N. Germanto,
2001).
Paul Edwar; “SQ” adalah bukti ilmiah. Ini adalah
benar ketika anda merasakan keamanan (secure), kedamaian (peace),
penuh cinta (loved), dan bahagia (happy). Ketika dibedakan dengan
suatu kondisi dimana anda merasakan ketidak amanan, ketidak bahagian, dan
ketidak cintaan.
SQ
berlandaskan pada kesadaran transcendental, bukan sekedar SQ pada tataran
biologi dan psikologi. Menurut Roger Garaudy (1986: 256-267), dari perspektif
syari’ah kesadaran transcendental mempunyai tiga unsur. Pertama, pengakuan
tentang ketergantungan manusia kepada Tuhan. Kedua, adanya perbedaan yang
mutlah antara Tuhan dan manusia. Ketiga, pengakuan tentang adanya norma-norma
mutlak dari Tuhan yang tidak berasal dari manusia.
B.
Urgensi IQ,EQ dan SQ dalam proses pendidikan
Ketiga kecerdasan
tersebut sangat membantu seseorang dalam meningkatkan kualitas diri,mengabaikan
salah satu kemampuan tersebut menyebabkan banyak individu dililit masalah
secara pribadi maupun sosial masyar kat.
Menurut penulis Iskandar
Doktor Psikologi Pendidikan dari Universitas Kebangsaan Malaysia menyatakan
bahwa pembelajaran di lembaga pendidikan sekolah dan perguruan tinggi kita
selama ini cenderung menggunakan kemampuan matematis-logis dan bahasa
(kecerdasan intelektual) akibatnya membunuh kemampuan lainnya.
Dalam aspek teori
Kecerdasan Emosi menyangkut banyak aspek penting, menurut Goleman, Noriah,
Iskandar minimal ada tujuh dimensi kecerdasan emosi, yaitu :
a.
Kesadaran diri
b.
Pengendalian diri
c.
Motivasi diri
d.
Empati (memahami orang lain secara mendalam)
e.
Kemahiran sosial
f.
Kerohanian
g.
Kematangan
Kecerdasan Emosional
(EQ) tumbuh seiring pertumbuhan seseorang sejak lahir hingga meninggal dunia.
Pertumbuhan EQ dipengaruhi oleh lingkungan ,sekolah dan keluarga dan
contoh-contoh yang didapat seseorang sejak lahir dari orang tuanya. Orang tua
adalah seseorang yang pertama kali harus mengajarkan kecerdasan emosi pada
anaknya dengan memberikan tauladan dan contoh yang baik. Agar siswa (peserta
didik) memiliki kecerdasan emosi yang tinggi dan stabil ,guru ( pendidik)
,orang tua harus mengajar menanamkan beberapa prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Membina hubungan
persahabtan yang hangat dan harmonis
b. Bekerja dalam
kelompok secara harmonis
c. Berbicara dan
mendengarkan secara efektif
d. Mencapai
prestasi yang lebih tinggi sesuai aturan yang ada (sportif)
e. Mengatasi masalah
dengan teman yang nakal
f. Berempati
pada sesama
g. Memecahkan masalah
h. Mengatasi konflik
i.
Membangkitkan rasa humor
j.
Memotivasi diri menghadapi saat-saat yang sulit
k. Menghadapi situasi
yang sulit dengan percaya diri
l.
Menjalin keakraban
Implimentasi
dallam proses pengajaran dan pembelajaran dituntut sikap kritis, kreatif dan
inovarif, para pendidik dan peserta didik dalam upaya mengubah model pengajaran
dan pembelajaran mereka, bukan sesuai dengan kecerdasan peserta didik, maknanya
seorang pendidik hendaknya mampu mengkomunikasikan materi pembelajaran sesuai
dengan kemampuan peserta didik. Pola ini dapat dilakukan oleh pendidik dan
peserta didik melalui ”Pembelajaran berbasis Penelitian”.
Model pembelajaaran ini berorientasi pada konsep kreativitas dan inovatif yang
memungkinkan untuk dikembangkan dalam upaya memberikan kontribusi pendidikan
dalam membekali generasi muda untuk dapat mandiri.
Model ini
dapat dilakukan dengan beberapa cara,sebagai berikut:
1.
Menjadikan materi pelajaran secara teori dapat dipraktekkan, dalam menumbuhkan
analisis kreatif dan inovatif peserta didik melalui kelompok pembelajaran
penelitian
2.
Menjadikan fasilitas pendidikan sebagai sarana yang dapat berkembang sesuai
dengan peluang dan tantangan perkembangan ilmu dan pengetahuan.
Dunia pendidikan sedang menggalakkan peningkatan
profesionalisme guru, dosen untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Diharapkan
dengan didudukkan para guru-guru dan dosen dengan ’intelijensi, emosi dan
spiritual’ yang tinggi dan stabil ,akan lebih sukses dalam mengelola kegiatan
pembelajaran.






1 komentar:
ya....ya... makasi
Posting Komentar