"Dalam setiap hal kita belajar, dalam tiap peristiwa ada makna..". Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

assalamualaikum..... selamat datang di "fyan's note". semoga apa yang saya tulis bisa bermanfaat untuk semua..... ^^

IQ, EQ, dan SQ

A.  PENGERTIAN  IQ, EQ, DAN SQ
1.  Intelectual Quotient (IQ)
a.        Pengertian IQ
     Orang sering kali menyamakan arti intelegensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti intelegensi (kecerdasan) sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian IQ hanya menggambarkan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara menyeluruh.
Kecerdasan ini terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, bernalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologis dengan “What I Think“.
Meski sudah bertahun-tahun dunia akademik, dunia militer (sistem rekrutmen dan promosi personel militer) dan dunia kerja, menggunakan IQ sebagai standar mengukur kecerdasan seseorang. Selain hal di atas masalah IQ menjadi sorotan para ahli dan mereka mencatat sedikitnya ada dua kelemahan (bukan kesalahan) yang menuntut untuk diperbaruhi, yaitu:
1) Pemahaman absolut terhadap skor IQ .
Steve Hallam berpandangan, pendapat yang menyatakan kecerdasan manusia itu sudah seperti angka mati dan tidak bisa diubah, adalah tidak tepat. Penemuan modern menunjuk pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara sisanya, 58% merupakan hasil dari proses belajar.
2) Cakupan kecerdasan manusia : kecerdasan nalar, matematika dan logika
Steve Hallam sekali lagi mengatakan bahwa pandangan tersebut tidaklah tepat, sebab dewasa ini makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu bermacam-macam. Buktinya, Michael Jordan dikatakan cerdas selama berhubungan dengan bola basket. Mozart dikatakan cerdas selama berurusan dengan musik. Mike Tyson dikatakan cerdas selama berhubungan dengan ring tinju.
2.  Emotional Quotient (EQ)
a. Pengertian EQ
Kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri, perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik, dan berhubungan dengan orang lain (Daniel Goldman).
Kemampuan mengindra, memahami dan dengan efektif menerapkan kekuatan, ketajaman, emosi sebagai sumber energi, informasi, dan pengaruh (Cooper & Sawaf).
Sehingga dapat disimpulkan EQ adalah kemampuan untuk menyikapi pengetahuan-pengetahuan emosional dalam bentuk menerima, memeahami dan mengelola.
Kecerdasan ini di otak berada pada otak belakang manusia. Kecerdasan ini memang tidak mempunya ukuran pasti seperti IQ, namun kita bisa merasakan kualitas keberadaannya dalam diri seseorang. Oleh karena itu EQ lebih tepat diukur dengan feeling. Kecerdasan ini lebih tepat diungkapkan dengan “What I feel”.

3.  Spiritual Quotient (SQ 
a. Pengertian SQ
Kecerdasan spiritual sering disebut SQ (Spiritual Quotient) penemunya Danah Zohar dan Lan Marshall, London , 2000) cenderung diperlukan bagi setiap hamba Tuhan untuk dapat berhubungan dengan Tuhannya. Melibatkan kemampuan, menghidupkan kebenaran yang paling dalam; artinya mewujudkan hal yang terbaik, untuk dan paling manusiawi dalam batin. Gagasan, energi, nilai, visi, dorongan, dan arah panggilan hidup, mengalir dari dalam dari suatu keadaan kesadaran yang hidup bersama cinta.
 ‘‘SQ adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya”. (h.4)
Kecerdasan spiritual adalah sumber yang mengilhami, menyemangati dan mengikat diri seseorang kepada nilai-nilai kebenaran tanpa batas waktu (Agus N. Germanto, 2001).
Paul Edwar; “SQ” adalah bukti ilmiah. Ini adalah benar ketika anda merasakan keamanan (secure), kedamaian (peace), penuh cinta (loved), dan bahagia (happy). Ketika dibedakan dengan suatu kondisi dimana anda merasakan ketidak amanan, ketidak bahagian, dan ketidak cintaan.
SQ berlandaskan pada kesadaran transcendental, bukan sekedar SQ pada tataran biologi dan psikologi. Menurut Roger Garaudy (1986: 256-267), dari perspektif syari’ah kesadaran transcendental mempunyai tiga unsur. Pertama, pengakuan tentang ketergantungan manusia kepada Tuhan. Kedua, adanya perbedaan yang mutlah antara Tuhan dan manusia. Ketiga, pengakuan tentang adanya norma-norma mutlak dari Tuhan yang tidak berasal dari manusia.




B. Urgensi IQ,EQ dan SQ dalam proses pendidikan
Ketiga kecerdasan tersebut sangat membantu seseorang dalam meningkatkan kualitas diri,mengabaikan salah satu kemampuan tersebut menyebabkan banyak individu dililit masalah secara pribadi maupun sosial masyar kat.
Menurut penulis Iskandar Doktor Psikologi Pendidikan dari Universitas Kebangsaan Malaysia menyatakan bahwa pembelajaran di lembaga pendidikan sekolah dan perguruan tinggi kita selama ini cenderung menggunakan kemampuan matematis-logis dan bahasa (kecerdasan intelektual) akibatnya membunuh kemampuan lainnya.
Dalam aspek teori Kecerdasan Emosi menyangkut banyak aspek penting, menurut Goleman, Noriah, Iskandar minimal ada tujuh dimensi kecerdasan emosi, yaitu :
a.       Kesadaran diri
b.       Pengendalian diri
c.       Motivasi diri
d.       Empati (memahami orang lain secara mendalam)
e.       Kemahiran sosial
f.        Kerohanian
g.       Kematangan
Kecerdasan Emosional (EQ) tumbuh seiring pertumbuhan seseorang sejak lahir hingga meninggal dunia. Pertumbuhan EQ dipengaruhi oleh lingkungan ,sekolah dan keluarga dan contoh-contoh yang didapat seseorang sejak lahir dari orang tuanya. Orang tua adalah seseorang yang pertama kali harus mengajarkan kecerdasan emosi pada anaknya dengan memberikan tauladan dan contoh yang baik. Agar siswa (peserta didik) memiliki kecerdasan emosi yang tinggi dan stabil ,guru ( pendidik) ,orang tua harus mengajar menanamkan beberapa prinsip-prinsip sebagai berikut :
a.       Membina hubungan persahabtan yang hangat dan harmonis
b.       Bekerja dalam kelompok secara harmonis
c.       Berbicara dan mendengarkan secara efektif
d.       Mencapai prestasi yang lebih tinggi sesuai aturan yang ada (sportif)
e.       Mengatasi masalah dengan teman yang nakal
f.        Berempati pada sesama
g.       Memecahkan masalah
h.       Mengatasi konflik
i.         Membangkitkan rasa humor
j.         Memotivasi diri menghadapi saat-saat yang sulit
k.       Menghadapi situasi yang sulit dengan percaya diri
l.         Menjalin keakraban
                                 
Implimentasi dallam proses pengajaran dan pembelajaran dituntut sikap kritis, kreatif dan inovarif, para pendidik dan peserta didik dalam upaya mengubah model pengajaran dan pembelajaran mereka, bukan sesuai dengan kecerdasan peserta didik, maknanya seorang pendidik hendaknya mampu mengkomunikasikan materi pembelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didik. Pola ini dapat dilakukan oleh pendidik dan peserta didik melalui ”Pembelajaran berbasis Penelitian”.
      Model pembelajaaran ini berorientasi pada konsep kreativitas dan inovatif yang memungkinkan untuk dikembangkan dalam upaya memberikan kontribusi pendidikan dalam membekali generasi muda untuk dapat mandiri.
Model ini dapat dilakukan dengan beberapa cara,sebagai berikut:
1.       Menjadikan materi pelajaran secara teori dapat dipraktekkan, dalam menumbuhkan analisis kreatif dan inovatif peserta didik melalui kelompok pembelajaran penelitian
2.       Menjadikan fasilitas pendidikan sebagai sarana yang dapat berkembang sesuai dengan peluang dan tantangan perkembangan ilmu dan pengetahuan.

Dunia pendidikan sedang menggalakkan peningkatan profesionalisme guru, dosen untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Diharapkan dengan didudukkan para guru-guru dan dosen dengan ’intelijensi, emosi dan spiritual’ yang tinggi dan stabil ,akan lebih sukses dalam mengelola kegiatan pembelajaran.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

arifahkurniawati mengatakan...

ya....ya... makasi

Posting Komentar