Pentingnya Konselor Memahami dan Menggunakan Hardiness sebagai Teknik Pemecahan Masalah
Dalam melaksanakan layanan bimbingan dan konseling, konselor menggunakan
beberapa teknik yang disesuaikan dengan permasalahan dan karakteristik konseli
yang sedang ditangani. Dalam setiap teknik yang digunakan, konselor diharapkan
dapat menumbuhkan aspek ketahanan pada pribadi konseli individu tersebut.
Maddi (Steven, 1985:210) mengatakan bahwa
dengan teknik pemusatan (focusing) dapat membantu konseli untuk tumbuh dalam
tiga aspek ketahanan (hardiness), yaitu;
1.
merupakan latihan yang
baik untuk simbolisasi, imajinasi dan penilaian (judgement),
2.
menambah daya kontrol konseli
terhadap emosi yang tak diinginkan,
3.
membantu konseli untuk
komit (comitment) terhadap problemnya yang menyebabkan problem itu lebih
relevan secara pribadi (personal).
Penguatan atau hardiness itu dapat diberikan dengan pendekatan
konseling eksistensial, dimana
pendekatan tersebut dapat menumbuhkan ketahanan terhadap emosi dan stress yang
ada pada diri konseli. Dalam pendekatan konseling eksistensial konseli
secara jelas dibangkitkan semangatnya
untuk secara sungguh-sungguh mengambil pengalaman subyektifnya sendiri dalam
dunianya. Mereka ditantang untuk memikul tanggung jawab atas apa dan bagaimana
mereka sekarang telah memilih untuk berada di dunia ini. Konseli diharapkan
keluar kedunia luas dan menentukan bagaimana mereka akan hidup secara berbeda.
Dalam
hal ini tugas konseli adalah harus aktif dalam kegiatan proses konseling, oleh
karena selama sesi konseling mereka harus menentukan jenis rasa takut, rasa
bersalah, dan kecemasan yang akan mereka eksplorasi. Di samping itu, konseli
juga berperan dalam mengambil keputusan untuk masuk dalam kegiatan konseling. Konseli
dalam pendekatan konseling eksistensial
bertugas untuk membuka pintu bagi dirinya sendiri setelah itu konseli bertugas
berkonfrontasi dengan kepedulian jauh di depan dan bukan mengurusi
problema-problema yang akan segera datang (Corey, 1997:182-183).
Maka
pentingnya hardiness dalam proses konseling untuk konselor antara lain:
a)
Dengan hardiness,
proses konseling dapat berjalan dengan lancar dan efektif.
b)
Konselor dapat membantu konseli dalam mengentaskan masalahnya dengan
penguatan yang diberikan.
c)
Dalam proses konseling, konseli dapat menekan emosi dan berpikir secara
realistis dengan hardiness yang diberikan oleh konselor.
d)
Dengan hardiness, konselor dapat membantu konseli mengantisipasi muculnya
masalah baru.
C. Cara Meningkatkan
Hardiness
Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk menuju
ketangguhan pribadi seperti dikemukakan Malani (2010), yaitu :
1)
Menetapkan misi hidup. Beberapa
penjabaran dari penetapan misi hidup, antara lain: membangun misi kehidupan,
membulatkan tekad, membangun visi , menciptakan wawasan, transformasi visi, dan
komitmen total.
2)
Membangun karakter, yaitu dilakukan
dengan beberapa langkah strategis berikut : relaksasi, membangun kesadaran
diri, membangun kekuatan afirmasi, mengembangkan pengalaman positif,
membangkitkan dan menyeimbangkan energi batiniah, dan mengasah prinsip
(pelatihan penjernihan emosi).
3)
Pengendalian diri (self cotrolling),
yaitu kemampuan mengelola kondisi kemauan, kebutuhan, impuls (desakan), drive
(dorongan) dan sumberdaya diri sendiri. Beberapa aspek, yang berkaitan dengan
kemampuan pengendalian diri, antara lain: kendali diri (Self Control) yakni
mengelola emosi-emosi dan desakan (impuls) hati-hati yang merusak, sifat dapat
dipercaya (Trustworthiness) yakni memelihara dan internalisasi norma kejujuran
dan integritas pribadi, Kehati-hatian (Conscientiousness) yakni
bertanggungjawab atas kinerja pribadi, dan Inovasi (innovation) yakni mudah
menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan dan informasi-informasi baru.







0 komentar:
Posting Komentar